Senin, 06 April 2015

Klasifikasi Obat Herbal Jamu, OHT, dan Fitofarmaka


Copas dari 123sehat.com
Perkembangan obat herbal saat ini sebenarnya menunjukkan kabar yang makin menggembirakan. Pasalnya, obat tradisional asli Indonesia telah diakui oleh negara terkait manfaatnya untuk terapi penyakit maupun pencegahannya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI pun telah melakukan klasifikasi terhadap obat herbal yang beredar sehingga masyarakat bisa memilih yang terbaik menurut keyakinannya.



Klasifikasi Obat Herbal
Obat herbal di indonesia terbagi menjadi tiga klasifikasi yaitu jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Ketiganya mungkin memiliki bahan dasar ramuan tanaman obat yang sama. Namun ada perbedaan di antara ketiganya.

Jamu

Paling akrab terdengar adalah jamu.  Jika sebuah obat herbal tertera label bertuliskan “jamu”, maka khasiat dari obat yang diperjualkan tersebut masih terbatas dari pengalaman empirik dari orang-orang yang telah menggunakannya tanaman herbal sebagai bahan baku sediaan. Misalnya terdapat obat herbal jamu dari jahe yang mencantumkan logo “jamu”, berarti produsen memberikan klaim khasiatnya terbatas dari kabar orang-perorangan (getok tular) yang telah mengalami sendiri khasiat dari jamu. Khasiat berdasar kabar turun temurun.

Selain itu, obat jamu belum memiliki standardisasi dalam peracikannya karena masih memakai bagian seluruh tanaman. Pengemasan masih sederhan. Dosisnya mengikuti kebiasaan yang telah berlaku secara turun temurun. Obat jamu tetap diakui oleh BPOM dan diperbolehkan untuk beredar. Namun kadangkala ada produsen nakal yang menyampur bahan herbal dengan bahan kimiawi. Hal ini sangat berbahaya.

Ciri khas herbal yang telah terkontaminasi bahan obat kimia adalah menimbulkan efek khasiat yang sangat cepat. Produk herbal rata-rata memiliki efek khasiat secara berangsur. Jika memilih untuk membeli obat herbal jenis jamu, pastikan pula kemasannya bersih dan higienis. Pasalnya, meracik obat herbal termasuk jamu harus tetap memastikan bahannya telah bersih dari kotoran.

Herbal Terstandar (OHT)

Jika menginginkan obat herbal yang lebih berkualitas lagi, dapat memilih jenis obat herbal terstandar (OHT). Saat ini herbal berstatus OHT makin banyak ditemui di pasaran. Perbedaannya dengan jenis jamu yaitu pada OHT telah dikerjakan dengan standar keamanan yang ketat dan khasiat dari tanaman herbal yang diracik telah melalui uji praklinik. Begitu pula dengan bahan bakunya telah sesuai dengan standardisasi tertentu. Produk OHT memang belum dilakukan uji klinis. Hanya saja konsistensi kualitas produknya sangat dijaga.

Uji praklinik dilakukan dengan bantuan hewan eksperimen. Uji praklinik ini sendiri terdiri dari uji eksperimental in vitro, uji eksperimental in vivo, uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronik, dan uji toksisitas khusus. Dalam pengujian, peneliti juga mengamati kemungkinan gejala keracunan dan perubahan patologi dari organ hewan yang diujikan dengan bahan herbal. Dengan demikian, produk dari OHT bisa diklaim aman dan khasiatnya terbukti secara ilmiah dengan melewati uji praklinik. Standar mutu lebih terjamin.

Fitofarmaka

Tingkatan paling tinggi dari obat herbal adalah fitofarmaka. Untuk obat herbal golongan fitofarmaka, penggunaannya diklaim paling aman dan telah dilakukan uji klinik maupun uji praklinik dalam mendapatkan manfaat tanaman herbal yang digunakan sebagai bahan baku. Seperti halnya OHT, penggunaan bahan baku dan produk jadinya sudah melalui standardisasi. Mutunya pun lebih terjamin. Saat obat herbal mencapai tahapan fitofarmaka, maka dapat dipakai dalam resep praktik kedokteran dan pelayanan kesehatan formal.

Jumlah obat herbal fitofarmaka memang masih terbatas saat ini. Namun Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kesehatan terus berupaya mengangkat sejumlah bahan alam untuk dikaji manfaatnya baik melalui uji klinik dan uji praklinik. Beberapa uji yang dilakukan agar mendapatkan standar fitofarmaka adalah uji farmakologi, uji toksikologi, dan uji klinik.

Obat herbal yang menurut standar mutu paling baik adalah yang berlabel fitofarmaka. Namun jika masih kesulitan untuk memperolehnya bisa memilih jenis OHT atau jamu. Pastikan obat yang dibeli berkualitas demi mendapatkan khasiat yang maksimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar